Minggu, 28 April 2013

SENI TRADISIONAL DI KOTA KUDUS

Paradigma 18 - Bidikan Utama - Modernisme seringkali berhadapan dengan wajah tradisionalisme, termasuk di dalamnya kesenian tradisional. Kesenian tradisional yang menyimpan nilai-nilai adiluhung religio-spiritual dalam lokalitasnya, cendrung bertentangan dengan modernitas yang mengedepankan rasionalitas. Dan kini, wajah masyarakat adalah wajah modernitas. Dan kesenian tradisional Kudus juga dihadapkan dalam dinamika perubahan masyarakat. Kentrung, Barongan, wayang klitik, dan beberapa kesenian Kudus lainya sepi peminat. Apa yang harus dilakukan oleh seni tradisional di Kudus? “Para seniman perlu melakukan inovasi, menyesuaikan kesenian tradisional dengan perubahan zaman, namun tidak mengurangi nilai-nilainya,” tutur Kasi Kesenian TBJT Surakarta, ST. Wiyono.
Hal yang sama dikemukakan oleh Ketua Dewan Kesenian Kudus, Aris Junaidi. Menurutnya adanya pelbagai inovasi terhadap kesenian tradisional merupakan hal yang positif, menarik, dan sekaligus bisa menjadi peluang emas bagi kesenian tradisional agar tetap eksis. Dengan kreativitas seniman dalam mengemas, maka keunikan dan ke-klasikan seni tradisional bisa memikat publik. Pengemasan ataupun balutan kesenian tradisional, bisa saja berupa kolaborasi dengan hal-hal dan alat-alat yang modern. “Tetapi tetap dalam koridor dan kadar-kadar tertentu, agar nilai-nilai kearifan lokalnya tidak luntur, dan justru lebih kuat budaya modernnya,” jelas Aris.
Inovasi ini perlu dilakukan. Agar kesenian tradisional tetap diminati masyarakat. Di samping masyarakat yang cenderung lebih meminati dan asyik dengan kesenian modern, menurut Aris penyebab kesenian tradisional kurang diminati oleh masyarakat, khususnya masyarakat Kudus adalah konsistensi dari kesenian tradisional itu sendiri. Artinya eksklusifme seni tradisional menyebabkan penampilan seni tradisional monoton dan menjenuhkan. “Barongan Kudus misalnya, tampilannya cenderung konsisten, sehingga masyarakat jenuh bahkan apatis,” tandas Aris.
Pengamat kesenian dari Kudus, MM Bhoernomo menyatakan bahwa sebenarnya kesenian tradisional yang sifatnya cenderung konsisten dan tidak banyak perubahan bukanlah suatu kemunduran atau bahkan kemajuan. Dalam konteks modern, inovasi yang dilakukan terhadap kesenian tradisional memang sebuah kemajuan, dan hal ini baik jika tujuannya agar generasi muda tertarik. Karena biasanya yang berubah adalah kemasannya saja. “Misalnya wayang kulit, sekarang dikemas lebih modern, namun pakem penampilannya sebab bentuk dan ceritanya masih sama tetap alias tidak berubah,” jelas Sastrawan seribu nama ini.
Bhoernomo menambahkan bahwa inovasi yang dilakukan tersebut bukannya tanpa resiko. Resikonya memang akan nampak seperti mendistorsi kesenian tradisional. Jadi menurutnya harus ada kuota yang jelas dalam membatasi modernisasi kesenian tradisional. Jangan sampai justru mengubur hidup-hidup kesenian tradisional.

Minim Sentuhan
Kesenian tradisional Kudus kini minim sentuhan. Padahal untuk tetap bisa bertahan dalam arus budaya pop, kesenian tradisional Kudus harus mendapatkan sentuhan intensif dari Pemda sebagai pemegang tampuk kekuasaan, serta masyarakat Kudus sendiri. Generasi muda juga memberi andil dalam mempertahan kesenian tradisioal Kudus, karena mereka adalah generasi penerus. Seharusnya pemerintah dan masyarakat, khususnya generasi muda harus berjalan berdampingan dan ada kerjasama yang baik. “Ke depannya harus ada kebersamaan dalam mengelola, melestarikan, dan mendayagunakan kesenian tradisional,” kata Aris berharap.
Sementara itu, menurut Bhoernomo apresiasi dari Pemda mutlak diperlukan, agar kesenian tradisional Kudus tetap eksis. Pemda harus lebih apresiasi dalam arti seluas-luasnya. Jangan biarkan kesenian tradisional terlantar, dan baru sadar jika sudah diklaim bangsa lain.
Menurutnya, faktor utama masyarakat atau para pemuda kurang berminat melestarikan kesenian tradisional Kudus, justru karena kurangnya apresisasi pemerintah secara umum terhadap para seniman. “Coba kalau seniman tradisioanal di seluruh daerah diangkat jadi PNS, pasti akan banyak sekali pemuda yang tertarik pada kesenian radisional,” tandas Bhoernomo.
Minimnya sentuhan dari pemerintah secara umum, serta Pemda sebagai pemegang kekusaan lokal, melahirkan pelbagai kendala dalam mengembangkan kesenian daerah. Kendala yang utama adalah sulitnya regenerasi kesenian tradisional. Sulit mencari generasi muda yang cinta, mau meneruskan, serta nguri-nguri kearifan kesenian tradisional. Mereka lebih enjoy menikmati seni modern (populer) yang hadir di berbagai media masa, dan telah masuk di ranah keluarga.
Kendala lain, menurut Aris, adalah Pemda masih sulit melacak dan menemukan sumber yang valid pelaku sejarah seni tradisional, sehingga tidak tahu bagaimana cara memainkan dan menampilkannya yang benar-benar murni asli.

Seremonial
Biasanya pemerintah menjadikan kesenian tradisional hanya sebatas pentas seremonial yang menghabiskan anggaran. Tari kretek Kudus misalnya, kesenian asli Kudus tersebut dihadirkan sebagai suguhan saat peresmian Museum Kretek pada tahun 1987 (lihat Majalah Paradigma Edisi 15, April 2009). Dan kini hanya dipentaskan jika ada tamu pemerintahan, dan beberapa acara yang sifatnya seremonial, tanpa adanya pembinaan secara serius. “Tidak sekadar menghadirkan para budayawan dan seniman hanya pada acara tertentu untuk nara sumber belaka tanpa apresiasi lebih,” keluh Aris.
Aris mengungkapkan, minimnya apresiasi terhadap kesenian tradisional, juga disebabkan karena minimnya anggaran yang dialokasikan. Sebagai Ketua Dewan Kesenian Kudus, dia tahu betul berapa anggaran untuk bidang kesenian. Dalam satu tahun, menurutnya, anggaran untuk seni tradisional maksimal kurang lebih Rp 100 juta. Dan itu dibagi dalam berbagai acara. Sementara milyaran rupiah lebih, dialokasikan pada bidang yang lain. Akibatnya sensitivisme muncul, kesenian tradisional sepi peminat, dan lebih menikamti kesenian modern yang minus budi pekerti.
Lebih dari itu, Bhoernomo mengkritik pemerintah yang selama ini menganaktirikan kesenian tradisional. Menurutnya, perhatian pemerintah daerah terhadap kesenian tradisional, sangat minim. Misalnya, kesenian Barongan yang kainya sudah sangat lusuh karena tidak mampu beli kain baru, sehingga membuat tampilannya kurang menarik.
Kurangnya perhatian Pemda terhadap kesenian tradisional Kudus diakui oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Hadi Sucipto. Khususnya jika dikaitkan dengan jumlah anggaran yang dialokasikan. Pasalnya, pihak pemerintah hanya sekadar memberikan stimulus. “Hanya sekadar dana pemantik, bukan dana penuh untuk melakukan proses rehabilitasi kesenian tradisional Kudus secara menyeluruh. Untuk itu kami selanjutnya menyerahkannya kepada masyarakat untuk melakukan proses perbaikan secara menyeluruh,” jelas Hadi dengan merahasiakan jumlah anggaran untuk pelestarian kesenian daerah Kudus.
Hadi tidak ingin dikatakan pihaknya kurang perhatian terhadap kesenian tradisional di Kudus. Menurutnya peran Pemda untuk mempertahankan kesenian tradisional masih tetap eksis. Diantaranya dengan mengembangkan budaya, benda cagar budaya ataupun seni tradisional yang ada di kudus. Misalnya Barongan Kudus, Ketoprak, Kentrung, Wayang Klitik dan lain sebagainya. Di samping itu, pihaknya juga mengembangkan budaya melalui Desa Wisata dengan memfasilitasi beberapa asesoris. Seperti, Membangun Desa.Wonosoco menjadi desa wisata dengan kekhasan kesenian wayang klitiknya.
Untuk itu, Bhoernomo mengungkapkan bahwa kesenian bisa menjadi aset daerah yang bisa mendatangkan “koin” bagi pemerintah. “Sekadar bukti, banyak media yang mengusung  kesenian tradisional ternyata bisa menjadi suguhan yang menarik, bahkan dijadikan objek wisata. Dan hal yang menarik wisatawaan asing, adalah kesenian tradisional,” jelas Pak Bhoer, begitu ia akrabb disapa.(*)

Related Post:



0

0 komentar:

Poskan Komentar

Gunakan Google Chrome Untuk Mendapatkan Tampilan Terbaik Blog Ini ( ^_^ )